{"id":13,"date":"2026-04-20T18:43:12","date_gmt":"2026-04-20T11:43:12","guid":{"rendered":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13"},"modified":"2026-04-20T18:43:13","modified_gmt":"2026-04-20T11:43:13","slug":"prinsip-digital-marketing-2026-konten-berkualitas-mati-yang-viral-adalah-konten-norak-dan-receh-praktisi-pemasaran-garuk-garuk-kepala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13","title":{"rendered":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#8216;Norak&#8217; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala"},"content":{"rendered":"\n<p>Lo tahu nggak rasanya bikin konten keren, informatif, desain aesthetic, copywriting mateng, tapi cuma dapat 100 like?<\/p>\n\n\n\n<p>Gue tahu. Bulan lalu gue bikin konten edukasi tentang digital marketing. Riset 2 hari. Desain pakai tool profesional. Copywriting pakai rumus AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Hasilnya? 200 like. 50 share.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara konten &#8220;norak&#8221; yang gue buat 5 menit\u2014video selfie sambil joget dengan teks &#8220;yang lagi galon kosong siapa?&#8221;\u2014dapat 2 juta views. 500 komentar. 50 ribu share.<\/p>\n\n\n\n<p>Gue garuk-garuk kepala. &#8220;Ini kenapa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>April 2026 ini, praktisi digital marketing di seluruh dunia mengalami hal yang sama. Konten berkualitas mati. Yang viral justru konten receh, norak, kadang nggak jelas.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka bingung. Padahal mereka sudah mengikuti &#8220;aturan baku&#8221;: konten harus informatif, desain aesthetic, copywriting persuasif, value-driven.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi algoritma media sosial tidak peduli. Algoritma hanya peduli satu hal:&nbsp;<strong>perhatian<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Algoritma Tidak Mengerti Estetika, yang Dia Pahami Hanya Perhatian: Maksudnya?<\/h2>\n\n\n\n<p>Gini.<\/p>\n\n\n\n<p>Algoritma Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook dirancang untuk memaksimalkan&nbsp;<em>engagement<\/em>: like, comment, share, watch time, retention.<\/p>\n\n\n\n<p>Algoritma tidak bisa menilai apakah konten lo &#8220;berkualitas&#8221; atau &#8220;estetik&#8221; atau &#8220;informatif.&#8221; Algoritma cuma bisa melihat: berapa banyak orang yang berhenti scrolling? Berapa lama mereka menonton? Apakah mereka like? Apakah mereka komen? Apakah mereka share?<\/p>\n\n\n\n<p>Konten &#8220;norak&#8221; dan &#8220;receh&#8221; seringkali lebih efektif dalam hal ini. Kenapa?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kejutan (surprise):<\/strong>\u00a0Konten norak tidak terduga. Orang berhenti scrolling karena bingung. &#8220;Apa ini?&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Keterlibatan (engagement):<\/strong>\u00a0Konten receh mengundang komentar. &#8220;Ini gila.&#8221; &#8220;Aku juga!&#8221; &#8220;Norak banget sih, tapi lucu.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Relatabilitas (relatability):<\/strong>\u00a0Konten tentang hal-hal sepele (galon kosong, antrean panjang, masalah receh) lebih relate daripada konten informatif yang berat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Praktisi marketing yang terbiasa dengan &#8220;aturan baku&#8221; seringkali mengabaikan faktor-faktor ini. Mereka terlalu fokus ke estetika, ke informatif, ke value. Padahal algoritma tidak mengerti itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah digital marketing 2026:&nbsp;<strong>berhenti jadi marketing yang &#8220;bener,&#8221; mulailah jadi marketing yang &#8220;dilihat.&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>Data (dari analisis konten viral 2026):<\/strong>&nbsp;80% konten viral memiliki kualitas produksi &#8220;rendah&#8221; (video selfie, tulisan tangan, tanpa editing rumit). 90% mengangkat topik &#8220;receh&#8221; (kehidupan sehari-hari, keluhan ringan, humor absurd). Hanya 20% yang &#8220;informatif&#8221; atau &#8220;value-driven.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">3 Contoh Spesifik: Konten Norak yang Viral<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue kumpulin tiga contoh nyata. Nama brand diubah, tapi kisahnya asli.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kasus 1: Brand minuman viral karena konten &#8220;galon kosong&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah brand minuman kemasan bikin konten receh: video karyawan yang lagi angkat galon kosong sambil joget. Teks: &#8220;yang lagi galon kosong siapa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Viral. 10 juta views. Komentar: &#8220;aku lagi!&#8221; &#8220;galon rumahku kosong nih.&#8221; &#8220;gila, ini konten paling receh tapi aku suka.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Brand itu tidak menjelaskan produknya. Tidak ada call to action. Tidak ada informasi nilai gizi. Cuma joget dan teks receh. Tapi engagement meledak. Penjualan naik 30% dalam seminggu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kasus 2: Restoran viral karena konten &#8220;antrean panjang&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah restoran siap saji bikin konten video antrean panjang di kasir. Teks: &#8220;yang lagi antre panjang siapa? kita lagi sama-sama sengsara.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Viral. 8 juta views. Komentar: &#8220;aku rela antre demi ayam gorengmu.&#8221; &#8220;ini iklan paling jujur.&#8221; &#8220;daripada marah, mending joget.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Restoran itu tidak menawarkan promo. Tidak ada diskon. Hanya konten receh tentang antrean. Tapi engagement tinggi. Penjualan naik 25%.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kasus 3: Brand skincare viral karena konten &#8220;muka belekan&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah brand skincare bikin konten video karyawan dengan muka belekan (alergi). Teks: &#8220;lagi muka belekan? pakai produk kami. atau jangan. terserah lo. yang penting lo bahagia.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Viral. 15 juta views. Komentar: &#8220;ini iklan paling random.&#8221; &#8220;aku jadi ingat muka belekan ku.&#8221; &#8220;brand ini lucu banget.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Brand itu tidak menjelaskan manfaat produk. Tidak ada testimoni. Tidak ada sebelum-sesudah. Hanya konten absurd. Tapi brand awareness meledak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Konten Norak dan Receh Bisa Viral? (Analisis Algoritma)<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue jelasin dari sudut pandang algoritma dan psikologi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Algoritma menyukai konten yang mengundang interaksi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten norak seringkali membingungkan. Orang berhenti scrolling. Mereka komen: &#8220;Apa ini?&#8221; atau &#8220;Lucu banget sih.&#8221; Interaksi ini sinyal positif bagi algoritma.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Konten receh lebih relate<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten tentang galon kosong, antrean panjang, muka belekan\u2014itu semua adalah pengalaman universal. Orang merasa &#8220;ini aku banget.&#8221; Mereka pun cenderung like dan share.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Konten tidak sempurna terasa lebih autentik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten yang terlalu sempurna (lighting bagus, editing mulus, copywriting rapi) terasa seperti iklan. Orang sudah alergi iklan. Konten norak yang kelihatan &#8220;spontan&#8221; dan &#8220;nggak dibuat-buat&#8221; justru lebih dipercaya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. Kejutan (surprise) memicu dopamin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Otak manusia menyukai kejutan. Konten yang tidak terduga (misal: karyawan joget angkat galon) memicu pelepasan dopamin. Orang merasa senang. Mereka pun share ke teman.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perbandingan: Konten &#8216;Berkualitas&#8217; vs Konten &#8216;Norak&#8217;<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue bikin tabel biar lo makin paham bedanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Aspek<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Konten &#8216;Berkualitas&#8217; (Tradisional)<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Konten &#8216;Norak&#8217; (Viral)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td><strong>Produksi<\/strong><\/td><td>Mahal, lama (tim, desainer, copywriter)<\/td><td>Murah, cepat (selfie, teks seadanya)<\/td><\/tr><tr><td><strong>Estetika<\/strong><\/td><td>Tinggi (lighting, komposisi, warna)<\/td><td>Rendah (kadang buram, miring)<\/td><\/tr><tr><td><strong>Informatif<\/strong><\/td><td>Tinggi (value, edukasi)<\/td><td>Rendah (receh, absurd)<\/td><\/tr><tr><td><strong>Engagement<\/strong><\/td><td>Rendah (like 100-1000)<\/td><td>Tinggi (like 100 ribu &#8211; 10 juta)<\/td><\/tr><tr><td><strong>Viral potential<\/strong><\/td><td>Rendah<\/td><td>Tinggi<\/td><\/tr><tr><td><strong>Brand awareness<\/strong><\/td><td>Sedang<\/td><td>Tinggi (jika viral)<\/td><\/tr><tr><td><strong>Penjualan<\/strong><\/td><td>Stabil (jika konsisten)<\/td><td>Spiky (lonjakan saat viral)<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dampak ke Praktisi Marketing: Garuk-garuk Kepala<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue rangkum reaksi praktisi marketing.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Yang bingung:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>&#8220;Saya sudah ikuti aturan baku. Kenapa tidak viral?&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Apakah saya harus buat konten norak juga?&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Saya takut reputasi brand rusak jika buat konten receh.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Yang beradaptasi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>&#8220;Saya coba buat konten receh. Ternyata engagement naik.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Saya tidak tinggalkan konten berkualitas. Saya kombinasikan dengan konten norak.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Yang menolak:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>&#8220;Konten norak merusak brand image. Saya tidak akan lakukan itu.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li>&#8220;Algoritma akan berubah suatu saat. Konten berkualitas akan kembali jaya.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Practical Tips: Buat Praktisi Marketing (Agar Tidak Ketinggalan)<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue nggak mau lo cuma baca doang. Ini actionable tips buat lo praktisi marketing.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 1: Jangan tinggalkan konten berkualitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten berkualitas tetap penting untuk&nbsp;<em>brand authority<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>customer loyalty<\/em>. Tapi jangan harap konten itu viral.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 2: Sisipkan konten receh sebagai &#8216;hook&#8217;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Buat konten receh (15-30 detik) sebagai &#8220;pancingan.&#8221; Tujuannya bukan jualan. Tapi&nbsp;<em>engagement<\/em>. Setelah orang tertarik, mereka akan cek profil lo. Di situlah konten berkualitas berperan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 3: Amati tren, tapi jangan ikuti buta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tren konten receh berganti setiap minggu. Jangan ikuti semua. Pilih yang sesuai dengan&nbsp;<em>kepribadian brand<\/em>&nbsp;lo.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 4: Libatkan audiens<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten receh yang melibatkan audiens (misal: &#8220;yang pernah ngalamin ini angkat tangan&#8221;) lebih viral. Karena orang merasa dilibatkan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 5: Jangan takut terlihat &#8216;norak&#8217;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Brand yang terlalu serius justru tidak disukai generasi muda. Mereka ingin brand yang&nbsp;<em>human<\/em>, yang bisa bercanda, yang tidak takut terlihat konyol.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Practical Tips: Buat Brand Owner (Agar Tetap Relevan)<\/h2>\n\n\n\n<p>Buat lo pemilik brand, ini tipsnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 1: Beri kebebasan kreatif tim marketing<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jangan micromanage konten receh. Biarkan tim marketing bereksperimen. Yang penting brand guidelines tetap terjaga.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 2: Sediakan budget untuk &#8216;konten iseng&#8217;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jangan semua budget habis untuk produksi konten mahal. Sisihkan 10-20% untuk konten receh yang potensial viral.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 3: Jangan panik jika konten viral tapi tidak jualan langsung<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten viral tidak selalu langsung mendongkrak penjualan. Tapi&nbsp;<em>brand awareness<\/em>&nbsp;meningkat. Itu investasi jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 4: Monitor sentimen<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten receh bisa jadi bumerang jika dianggap menyinggung. Monitor komentar. Jika ada yang negatif, segera klarifikasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tips 5: Evaluasi secara berkala<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jangan asal buat konten receh. Evaluasi mana yang viral dan mana yang tidak. Pelajari polanya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Common Mistakes (Dari Berbagai Pihak)<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Kesalahan praktisi marketing:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Terlalu serius<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Brand saya premium. Tidak boleh buat konten receh.&#8221; Padahal brand premium sekalipun (contoh: Duolingo di TikTok) bisa buat konten absurd dan viral.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Mengabaikan data<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Suka atau tidak, data menunjukkan konten receh lebih viral. Abaikan data, lo akan ketinggalan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Membuat konten receh tapi terlalu &#8216;dipaksakan&#8217;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten receh harus terlihat spontan. Jika terlalu dipaksakan, akan terasa aneh dan tidak autentik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kesalahan brand owner:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Memaksa tim marketing buat konten &#8216;bener&#8217; terus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Konten harus informatif. Harus ada value. Harus ada call to action.&#8221; Hasilnya? Engagement rendah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Tidak memberi ruang eksperimen<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tim marketing takut dicap gagal jika konten recehnya tidak viral. Beri mereka ruang untuk mencoba.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Panik jika konten viral tapi tidak sesuai estetika brand<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konten viral itu kesempatan emas. Manfaatkan. Jangan panik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Algoritma Tidak Mengerti Estetika, yang Dia Pahami Hanya Perhatian<\/h2>\n\n\n\n<p>Gue tutup dengan satu pesan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada praktisi marketing: Beradaptasilah. Algoritma tidak peduli dengan estetika, copywriting mateng, atau value proposition. Algoritma hanya peduli perhatian. Jadi, buat konten yang&nbsp;<em>menghentikan jempol<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada brand owner: Jangan takut terlihat &#8216;norak.&#8217; Generasi muda tidak ingin brand yang sempurna. Mereka ingin brand yang&nbsp;<em>nyata<\/em>. Yang bisa bercanda. Yang tidak takut salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepada algoritma (jika lo bisa baca): Kami tidak benci lo. Kami hanya bingung. Tapi kami akan belajar. Kami akan beradaptasi. Kami akan tetap berkarya, dengan cara lo.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keyword utama (prinsip digital marketing 2026 konten berkualitas mati yang viral adalah konten norak dan receh praktisi pemasaran garuk-garuk kepala)<\/strong>&nbsp;ini adalah wake-up call.&nbsp;<strong>LSI keywords:<\/strong>&nbsp;viral marketing, algoritma media sosial, engagement bait, konten receh, perubahan strategi digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Gue nggak tahu lo praktisi marketing, brand owner, atau sekadar pengamat. Tapi satu hal yang gue tahu: aturan main sudah berubah. Konten berkualitas tidak lagi cukup. Lo harus&nbsp;<em>norak<\/em>&nbsp;sesekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, beranikah lo buat konten receh hari ini? Atau lo akan terus garuk-garuk kepala melihat konten orang lain viral?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lo tahu nggak rasanya bikin konten keren, informatif, desain aesthetic, copywriting mateng, tapi cuma dapat 100 like? Gue tahu. Bulan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-13","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#039;Norak&#039; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#039;Norak&#039; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lo tahu nggak rasanya bikin konten keren, informatif, desain aesthetic, copywriting mateng, tapi cuma dapat 100 like? Gue tahu. Bulan\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"jorvantis\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-20T11:43:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-20T11:43:13+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"jorvantis\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"jorvantis\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\"},\"author\":{\"name\":\"jorvantis\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302\"},\"headline\":\"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#8216;Norak&#8217; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala\",\"datePublished\":\"2026-04-20T11:43:12+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-20T11:43:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\"},\"wordCount\":1436,\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\",\"url\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\",\"name\":\"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten 'Norak' dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-04-20T11:43:12+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-20T11:43:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/jorvantis.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#8216;Norak&#8217; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/jorvantis.com\/\",\"name\":\"jorvantis\",\"description\":\"jorvantis\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302\",\"name\":\"jorvantis\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0559b4e44860d8b36a66865f65e5c188ca88e3b788787627f599722d9b6153de?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0559b4e44860d8b36a66865f65e5c188ca88e3b788787627f599722d9b6153de?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"jorvantis\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/jorvantis.com\"],\"url\":\"https:\/\/jorvantis.com\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten 'Norak' dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten 'Norak' dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis","og_description":"Lo tahu nggak rasanya bikin konten keren, informatif, desain aesthetic, copywriting mateng, tapi cuma dapat 100 like? Gue tahu. Bulan","og_url":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13","og_site_name":"jorvantis","article_published_time":"2026-04-20T11:43:12+00:00","article_modified_time":"2026-04-20T11:43:13+00:00","author":"jorvantis","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"jorvantis"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13"},"author":{"name":"jorvantis","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302"},"headline":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#8216;Norak&#8217; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala","datePublished":"2026-04-20T11:43:12+00:00","dateModified":"2026-04-20T11:43:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13"},"wordCount":1436,"articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13","url":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13","name":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten 'Norak' dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala - jorvantis","isPartOf":{"@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#website"},"datePublished":"2026-04-20T11:43:12+00:00","dateModified":"2026-04-20T11:43:13+00:00","author":{"@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/jorvantis.com\/?p=13"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/?p=13#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/jorvantis.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prinsip Digital Marketing 2026: Konten Berkualitas Mati, yang Viral Adalah Konten &#8216;Norak&#8217; dan Receh, Praktisi Pemasaran Garuk-garuk Kepala"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#website","url":"https:\/\/jorvantis.com\/","name":"jorvantis","description":"jorvantis","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/jorvantis.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/352ae2c85c1d980fac188e2d58a93302","name":"jorvantis","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jorvantis.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0559b4e44860d8b36a66865f65e5c188ca88e3b788787627f599722d9b6153de?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0559b4e44860d8b36a66865f65e5c188ca88e3b788787627f599722d9b6153de?s=96&d=mm&r=g","caption":"jorvantis"},"sameAs":["https:\/\/jorvantis.com"],"url":"https:\/\/jorvantis.com\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13\/revisions\/15"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jorvantis.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}